Fesyar Syafaat 2025 Dorong Ekonomi Kerakyatan, GPM Jadi Instrumen Tekan Inflasi di Pekalongan



KFM PEKALONGAN, Kota Pekalongan – Festival Ekonomi Syariah (Fesyar) Syafaat 2025 yang digelar di Lapangan Mataram, Kota Pekalongan, pada Sabtu-Minggu (23–24/8/2025), bukan hanya menghadirkan kemeriahan, tetapi juga menjadi strategi nyata dalam menjaga daya beli masyarakat. Melalui Gerakan Pangan Murah (GPM), kebutuhan pokok bisa diakses dengan harga lebih terjangkau, sekaligus membantu menekan laju inflasi di Kota Pekalongan.

Koordinator GPM dari Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPw BI) Tegal, Prasojo, menjelaskan bahwa kegiatan ini dirancang untuk menjaga stabilitas harga sekaligus memperkuat ekonomi masyarakat.

“Kita menyediakan beberapa komoditas, baik dalam bentuk paket maupun non paket. Untuk paket sembako, masyarakat bisa mendapatkan beras medium 5 kg, gula pasir 1 kg, dan minyak goreng 1 liter dengan harga Rp72.000 saja bila melakukan pembayaran menggunakan QRIS. Kalau membayar secara tunai, harga paket Rp80.000. Padahal harga normal di pasaran bisa mencapai sekitar Rp100 ribuan,” ungkapnya.

Baca juga: Empat Tahun Sinergi BI Tegal dan Sahabat Yatim: Bangun Generasi Emas Cinta Rupiah Sejak Dini

Menurut Prasojo, total 2.000 paket sembako disediakan selama dua hari, selain itu juga ada komoditas non paket berupa telur ayam ras Rp24.000/kg dan bawang merah Rp36.000/kg. Antusiasme warga sangat tinggi, bahkan antrean sudah terjadi sejak pagi sebelum pembukaan resmi.

“Alhamdulillah, respon masyarakat luar biasa. Mereka rela datang lebih awal demi bisa mendapatkan bahan pokok dengan harga murah. Ini menunjukkan betapa GPM sangat dibutuhkan,” tambahnya.

Manfaat Ganda: Stabilitas Harga dan Literasi Digital

Selain membantu meringankan pengeluaran rumah tangga, GPM di Fesyar Syafaat 2025 juga menjadi sarana edukasi pembayaran non-tunai menggunakan QRIS.

“Dengan adanya GPM ini, harapannya masyarakat bisa terbantu dan sekaligus mendorong kesadaran masyarakat bertransaksi secara digital menggunakan QRIS. Jadi manfaatnya ganda, selain ekonomis juga mengedukasi digitalisasi sistem pembayaran,” jelas Prasojo.

Baca juga: BI Tegal Bawa Rp1 Miliar Uang Baru ke Pasar Tradisional: Sistem Online Jadi Primadona Masyarakat

Suara Warga: Harga Lebih Murah, Hidup Lebih Lega

Aminah (36), warga Kelurahan Podosugih, Kota Pekalongan, merasakan langsung manfaat GPM.

“Harga beras, gula pasir dan minyak goreng di sini lebih murah dibandingkan di pasaran, jadi bisa mengurangi pengeluaran rumah tangga. Selain itu, kualitas barangnya juga bagus,” ujarnya.

Ia juga menilai sistem pembayaran QRIS memberikan kemudahan.

“Tinggal scan lewat aplikasi, cepat, aman, dan nggak perlu repot bawa uang tunai. Semoga kegiatan seperti ini sering diadakan, apalagi menjelang hari besar keagamaan saat kebutuhan pokok biasanya naik,” tutup Aminah.

Dengan konsep ini, Fesyar Syafaat 2025 tidak hanya menjadi festival ekonomi syariah, tetapi juga instrumen penguatan ekonomi kerakyatan yang berdampak langsung bagi masyarakat.

Tidak ada komentar

Tanggapan Anda Tentang Berita Ini ?

Diberdayakan oleh Blogger.