Dikira Lahan Mati Bekas Rob, Sawah di Pekalongan Ini Malah Panen Raya Padi Unggulan Pakai Teknologi Drone & Sensor Tanah



KFM PEKALONGAN, PEKALONGAN – Lahan pesisir yang terancam mati akibat rendaman air rob kini punya masa depan baru. Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) Tegal bersama Pemerintah Kota Pekalongan sukses membuktikan bahwa lahan salin bekas rob di Kelurahan Degayu, Pekalongan Utara, dapat kembali produktif dan menghasilkan beras kualitas unggul.

Melalui program Demfarm Smart Farming Padi Biosalin berbasis Climate-Smart Agriculture (CSA), areal seluas 3,5 hektare berhasil dipanen secara maksimal. Acara penyerahan wakaf produktif kemandirian benih unggulan ini dihadiri langsung oleh Wali Kota Pekalongan H. Achmad Afzan Arslan Djunaid, dan Wakil Wali Kota Hj. Balgis Diab, bersama unsur Forkopimda serta kelompok tani setempat.

Baca juga: Dari Lereng Pekalongan ke Panggung Eropa, Kopi Binaan BI Tegal Sabet Transaksi Rp 2,9 Miliar di JCFF

Keberhasilan merubah tanah berkadar garam tinggi menjadi lahan subur tidak lepas dari sentuhan teknologi pertanian modern. Tanah diawali dengan proses remediasi menggunakan campuran biochar, dekomposer, dan kompos kohe. Setelah kesuburan tanah pulih, panitia menanam varietas padi khusus tahan salin seperti Biosalin 1, Biosalin 2, dan IPB 11S BePe.

Modernisasi dipadukan secara digital menggunakan rice transplanter, sensor tanah real-time, hingga penyesuaian pupuk presisi menggunakan drone sprayer.

Dalam keterangannya, Kepala Perwakilan Bank Indonesia Tegal, Bimala, menegaskan bahwa langkah ini adalah bentuk komitmen lintas instansi dalam menjaga ketahanan pangan di tengah tantangan perubahan iklim.

"Program Demfarm tahun 2026 ini memperluas areal percontohan menjadi 3,5 hektare dengan menerapkan teknologi Climate-Smart Agriculture (CSA) secara terintegrasi. Harapan ke depan, keberhasilan percontohan (pilot project) di Kelurahan Degayu ini dapat direplikasi di kawasan pesisir lainnya yang menghadapi tantangan serupa," ungkap Bimala dalam keterangan resminya, Rabu (12/8/2026).

Baca juga: Sukses Kumpul Wakaf Rp68 Juta, Tradisi Bubur Suro Krapyak Kini Jadi Motor Ekonomi Syariah Bareng BI Tegal

Guna mengatasi kelangkaan benih tahan salin, KPwBI Tegal berkolaborasi dengan Balai Pengawas dan Sertifikasi Benih (BPSB) Jawa Tengah untuk melakukan pendaftaran sertifikasi varietas Biosalin 1. 

"Program ini ditargetkan mampu memproduksi 800 hingga 1.000 kg benih sebar bersertifikat, yang dapat mencukupi kebutuhan luas tanam 35 hingga 40 hektare kawasan pesisir Pekalongan dan sekitarnya," imbuhnya.

Tak hanya fokus pada hasil panen, proyek ini mengawinkan sektor ekonomi hijau (green economy) dengan nilai keuangan syariah melalui penyerahan Wakaf Produktif sebesar Rp74 juta. Dana ini dihimpun dari kegiatan Syafaat x Bubur Suro 2026 hasil sinergi KPwBI Tegal, Dinas Pertanian dan Pangan Kota Pekalongan, MES Kota Pekalongan, dan Dompet Dhuafa Jateng.

"Inisiatif terpadu ini diharapkan tidak hanya mengembalikan produktivitas sawah yang sempat hilang, tetapi juga memperkuat kemandirian benih lokal dan membangkitkan perekonomian para petani di kawasan pesisir secara berkelanjutan," pungkas Bimala.

Tidak ada komentar

Tanggapan Anda Tentang Berita Ini ?

Diberdayakan oleh Blogger.