Jalan Provinsi Bojong–Kajen Jadi “Jebakan Maut”, Pedagang Ikan Terjatuh Hingga Warga Pasang Rambu Darurat
KFM PEKALONGAN, KAJEN – Ruas Jalan Provinsi Bojong–Kajen di Kabupaten Pekalongan kembali menuai keluhan warga. Kondisinya yang rusak parah, dipenuhi lubang besar, dan kerap tergenang banjir menjadikan jalan ini sebagai jalur rawan kecelakaan, terutama bagi pengendara sepeda motor.
Lubang-lubang yang tertutup air keruh membuat permukaan jalan tampak rata, namun justru menjadi jebakan berbahaya bagi pengguna jalan yang melintas setiap hari.
Salah satu korban adalah Untung (55), warga Ulujami, Kabupaten Pemalang, yang sehari-hari berjualan ikan di Pasar Kajen. Ia terjatuh saat melintasi jalan tergenang di wilayah Desa Wangandowo, Kecamatan Bojong.
"Biasanya kalau tidak ada air, lubangnya masih kelihatan. Ini tertutup banjir, jadi tidak tahu kalau ada lubang," ujarnya, Senin (2/2/2026).
Saat kejadian, Untung mengaku tidak sempat menghindar karena dari arah berlawanan melaju kendaraan lain. Motornya terperosok ke lubang yang tertutup genangan air hingga membuatnya terjatuh.
"Motor rusak, tapi masih bisa jalan. Tadi juga ada yang jatuh di situ. Bahaya sekali," katanya.
Untung menilai, kerusakan jalan tersebut sudah berlangsung lama dan semakin berbahaya sejak banjir kerap menggenangi badan jalan. Lubang-lubang yang sebelumnya terlihat kini tersembunyi di bawah air.
Baca juga: Banjir Rendam GTA Tirto, Warga Keluhkan Respons Evakuasi, BPBD Pekalongan Belum Rilis Data Resmi
Ia berharap pemerintah segera melakukan perbaikan menyeluruh, bukan sekadar penanganan sementara.
"Ya dibetulkan yang baik supaya tidak ada yang jatuh lagi. Ini sangat berbahaya, apalagi buat kami yang tiap hari lewat cari nafkah," tuturnya.
Keluhan serupa juga disampaikan Rendy, warga Kecamatan Wiradesa yang bekerja di Kajen. Ia menilai, janji perbaikan total dan pengecoran jalan yang disebut-sebut akan dilakukan pemerintah provinsi belum terealisasi sepenuhnya.
"Katanya mau dibetulin total dan dicor, tapi kenyataannya cuma beberapa titik saja. Di wilayah Desa Waru Wiradesa misalnya, tidak diperbaiki menyeluruh, hanya tambal sulam," ujarnya saat ditemui, Kamis (29/1/2026).
Menurut Rendy, kondisi jalan yang rusak parah bahkan sempat viral ketika polisi menutup lubang jalan saat hujan demi mencegah kecelakaan.
"Bahkan, sempat viral polisi nutup jalan berlubang ketika hujan, karena jalan berlubangnya sangat membahayakan pengendara," tambahnya.
Ia menyebut, kerusakan terparah berada di ruas bawah flyover jalan tol Bojong hingga arah Kajen. Lubang-lubang besar tersebar di banyak titik, sehingga membahayakan pengendara, terutama sepeda motor.
"Dari Bojong sampai Kajen itu rusaknya parah sekali, seperti obyek wisata jeglongan sewu. Sudah hati-hati pun tetap bisa kena lubang," keluhnya.
Baca juga: Tirto Paling Parah, Bupati Fadia Turun Langsung Cek Dapur Umum dan Layanan Korban Banjir
Akibat kondisi tersebut, Rendy mengaku pernah mengalami ban motornya bocor setelah terperosok lubang yang tertutup air hujan.
"Kalau hujan tambah bahaya. Lubang tertutup air, jadi tidak kelihatan sama sekali," katanya.
Mirisnya, warga sekitar bahkan harus berinisiatif memasang penanda darurat di sejumlah titik jalan berlubang. Ban bekas dan potongan kayu diletakkan di tengah jalan sebagai peringatan agar pengendara memperlambat laju kendaraan.
"Warga sampai pasang rambu sendiri pakai ban bekas, dan kayu supaya orang tidak jatuh," tambah Rendy.
Ia berharap, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah benar-benar serius melakukan perbaikan total pada ruas jalan Bojong–Kajen yang menjadi penghubung vital Kabupaten Pekalongan dan Kabupaten Banjarnegara.
"Semoga gubernur benar-benar serius memperbaiki jalan Bojong-Kajen. Jalan ini yang menghubungkan Kabupaten Pekalongan ke Kabupaten Banjarnegara. Jangan tambal sulam terus. Ruas Wiradesa juga belum semuanya dicor," tegasnya.
Pantauan di lapangan menunjukkan, jalan berlubang tersebar di sepanjang ruas Bojong hingga Kajen. Saat hujan turun, lubang-lubang tersebut tertutup genangan air dan sulit dikenali pengendara. Hingga kini, perbaikan yang dilakukan masih bersifat tambal sulam tanpa penanganan menyeluruh, meski jalan tersebut merupakan kewenangan Pemerintah Provinsi Jawa Tengah.

Komentar Anda