Alumni SMAN Kajen Bergerak Saat Banjir Meluas, Mayjen Oni: “Kami Berharap Bisa Meringankan Beban Warga”
KFM PEKALONGAN, KAJEN – Saat banjir masih merendam ribuan rumah dan memaksa ribuan warga bertahan di pengungsian, solidaritas datang dari Ikatan Keluarga Alumni SMA Negeri Kajen (IKA SMANKA). Organisasi alumni ini turun langsung menyalurkan bantuan bagi korban banjir di Kabupaten Pekalongan.
Bantuan tahap pertama diserahkan ke posko dapur umum di Desa Sukun, Sabtu, 31 Januari 2026, sebagai bentuk respons cepat terhadap bencana banjir yang melanda wilayah tersebut sejak pertengahan Januari.
Beragam kebutuhan dasar disalurkan, mulai dari pakaian anak dan dewasa, obat-obatan, vitamin, air mineral, makanan ringan, gula, teh, biskuit, hingga pampers untuk bayi. Bantuan ini diharapkan dapat membantu pengungsi yang hingga kini masih bergantung pada dapur umum.
Ketua Umum IKA SMANKA, Mayor Jenderal (Mayjen) TNI Dr. Oni Junianto, S.A.P., M.M., M.Tr.Opsla, melalui Ketua Harian IKA SMANKA Supriyadi, menyampaikan harapannya agar bantuan tersebut dapat meringankan beban warga terdampak.
"Bantuan yang tidak banyak ini setidaknya bisa memberikan manfaat serta meringankan beban dan sekaligus memberikan dukungan dan semangat bagi para korban bencana banjir. Semoga bencana ini segera berakhir," ujarnya Senin (2/2/2026).
Aksi kemanusiaan ini menjadi bagian dari kepedulian alumni SMAN Kajen terhadap daerah asal mereka yang saat ini tengah dilanda musibah banjir cukup parah.
Sementara itu, Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Pekalongan, Agus Pranoto, mengungkapkan bahwa banjir telah berdampak luas di berbagai wilayah.
“Dampak banjir telah merendam 8 kecamatan dan 31 desa, dengan total 11.582 rumah yang terendam,” jelas Agus Pranoto.
Ia menambahkan, sebanyak 19.190 Kepala Keluarga (KK) atau sekitar 60.164 jiwa, termasuk anak-anak dan lansia, turut terdampak akibat bencana tersebut.
“Banjir mulai melanda pada 18 Januari 2026, dan sampai saat ini masih ada 1.513 pengungsi yang bertahan di 18 titik lokasi pengungsian,” tambahnya.
Meski jumlah titik pengungsian mulai berkurang, kebutuhan logistik bagi para pengungsi masih sangat bergantung pada dapur umum. BPBD Kabupaten Pekalongan mencatat terdapat 11 dapur umum yang hingga kini masih beroperasi untuk melayani warga terdampak banjir.

Komentar Anda