Jelang Idulfitri 2026, BI Tegal Ingatkan Ancaman Lonjakan Harga Pangan di Pekalongan
KFM PEKALONGAN, KAJEN – Menjelang Ramadan dan Idulfitri 2026, potensi kenaikan harga bahan pangan di wilayah Kabupaten Pekalongan mulai menjadi perhatian serius. Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) Tegal mengingatkan pemerintah daerah dan Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) untuk memperkuat langkah antisipasi agar stabilitas harga tetap terjaga.
Kepala KPwBI Tegal Bimala mengatakan, secara historis tren inflasi pada Februari hingga menjelang Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) memang cenderung meningkat karena lonjakan permintaan masyarakat.
“Secara historis pada bulan Februari hingga menjelang Ramadan dan Idulfitri biasanya terjadi peningkatan inflasi karena permintaan masyarakat yang naik. Oleh karena itu perlu dilakukan langkah mitigasi seperti sidak pasar, gerakan pangan murah, serta memastikan kelancaran distribusi pasokan,” ujar Bimala saat mengikuti HLM TPID di Aula Lantai 1 Setda Kabupaten Pekalongan belum lama ini.
Berdasarkan data terbaru, inflasi Indeks Harga Konsumen (IHK) Kota Tegal yang menjadi acuan bagi wilayah Kabupaten Pekalongan tercatat 0,86 persen secara bulanan (mtm) dan 4,97 persen secara tahunan (yoy) pada Februari 2026.
Angka tersebut lebih tinggi dibanding rata-rata inflasi Jawa Tengah yang berada di 0,76 persen (mtm) dan 4,43 persen (yoy).
Menurut Bimala, kelompok pangan menjadi penyumbang utama inflasi. Komoditas seperti beras, cabai, daging ayam hingga daging sapi berpotensi mengalami kenaikan harga seiring meningkatnya kebutuhan masyarakat menjelang Lebaran.
“Permintaan masyarakat yang meningkat menjelang Idulfitri perlu diantisipasi bersama agar tidak memicu lonjakan harga yang berlebihan,” katanya.
Untuk menjaga stabilitas harga, Bank Indonesia bersama TPID mendorong sejumlah langkah strategis, mulai dari pemantauan harga langsung di pasar, pelaksanaan gerakan pangan murah, hingga penguatan distribusi antar wilayah.
Selain itu, koordinasi antar daerah juga dinilai penting untuk memastikan pasokan komoditas pangan tetap tersedia.
“Kolaborasi antara pemerintah pusat dan daerah sangat penting untuk memastikan ketersediaan pasokan pangan antar wilayah serta menjaga stabilitas harga dan daya beli masyarakat,” jelas Bimala.
Baca juga: SERAMBI 2026 Diluncurkan, BI Tegal Wajibkan Tukar Uang Baru Online via PINTAR
Di sisi lain, perekonomian Kabupaten Pekalongan menunjukkan tren positif. Pada tahun 2025, pertumbuhan ekonomi daerah ini mencapai 5,88 persen, menjadi yang tertinggi dalam lima tahun terakhir.
Namun secara triwulanan pada akhir 2025, pertumbuhan sedikit melambat menjadi 4,81 persen (yoy), terutama dipengaruhi penurunan pada sektor primer dan sekunder.
Meski begitu, sektor tersier seperti perdagangan dan jasa tetap menjadi kontributor utama perekonomian daerah.
Bank Indonesia Tegal juga terus bersinergi dengan Pemerintah Kabupaten Pekalongan dalam pengembangan ekonomi daerah. Beberapa program yang telah dilakukan antara lain pembinaan kelompok usaha, pengembangan hilirisasi produk perikanan, hingga digital farming bagi petani.
“Penguatan sektor produksi dan peningkatan kapasitas pelaku usaha lokal penting untuk menjaga stabilitas ekonomi sekaligus mendukung pengendalian inflasi dari sisi hulu,” ujar Bimala.
Dengan langkah antisipasi yang tepat, BI optimistis stabilitas harga menjelang Idulfitri dapat tetap terjaga sehingga daya beli masyarakat tidak terganggu.

Komentar Anda