Trauma Berat Akibat Bullying Bertahun-tahun, Siswa SD di Pekalongan Tolak Pakai Seragam dan Sempat 3 Hari Tak Tidur


KFM PEKALONGAN, KAJEN — Sekolah yang semestinya menjadi ruang aman dan nyaman untuk menuntut ilmu justru berubah menjadi sumber ketakutan yang mencekam. Seorang siswa sekolah dasar berinisial K di Kabupaten Pekalongan, Jawa Tengah, mengalami trauma mendalam yang diduga akibat perundungan fisik berkepanjangan sejak duduk di kelas III hingga kelas VI SDN 2 Langkap Kedungwuni.

Akibat tekanan psikologis yang hebat, K kini dilaporkan enggan bersekolah selama dua minggu terakhir, mengalami gangguan makan, bahkan sempat tidak bisa tidur selama dua hingga tiga hari berturut-turut.

Ayah K, Febi Firdaus (34), menuturkan bahwa mimpi buruk anaknya bermula ketika K masuk sebagai siswa pindahan saat kelas III. Sejak saat itu, K diduga kerap mengalami kekerasan fisik dari teman-teman sekelasnya. Pola perundungan tersebut berlanjut saat K naik ke kelas IV dan V, hingga mencapai titik puncaknya ketika ia berada di kelas VI.

Perubahan drastis pada diri K mulai terlihat jelas oleh keluarga. Jika sebelumnya bocah tersebut masih bisa dibujuk untuk berangkat ke sekolah, kini K menunjukkan penolakan keras hingga enggan mengenakan seragam sekolah.

Baca juga: Cegah Kenakalan Remaja, Plt Bupati Sukirman Ajak Gen Z Tebar Kebaikan di Jumbara PMR XII

Dampak tekanan mental ini juga merembet ke kehidupan rumah tangga. Febi mengungkapkan, anaknya sempat menunjukkan perilaku di luar kebiasaan, seperti mengamuk, memukul adiknya, hingga bertindak agresif kepada sang ibu.

Keluarga awalnya mengira K hanya sakit biasa dan membawanya ke puskesmas karena demam. Namun, melihat kondisi psikis yang mengkhawatirkan, pihak puskesmas menyarankan agar K mendapatkan rujukan pemeriksaan ke poli kesehatan jiwa. Setelah demamnya mereda, keluarga langsung membawa K berkonsultasi dengan psikiater.

"Jangankan berangkat sekolah, kegiatan sehari-harinya saja berubah drastis. Makannya susah, bahkan kemarin sempat dua sampai tiga hari tidak tidur sama sekali," ungkap Febi saat menceritakan kondisi anaknya, Rabu (28/10/2026).

Sebagai orang tua, Febi mengaku sangat terpukul melihat perubahan drastis pada buah hatinya. Saat ini, K lebih sering mengurung diri dan banyak diam ketika diajak berbicara.

Di tengah duka dan perjuangan memulihkan mental sang anak, pihak keluarga berinisiatif menempuh jalur mediasi. Pihak sekolah, siswa yang diduga terlibat konflik, serta para wali murid telah mendatangi kediaman keluarga untuk merembukkan penyelesaian masalah ini.

Baca juga: Lawan Kriminalitas Remaja, Pemkab Pekalongan Inisiasi Program Sakpore: 1 Jam Bebas HP untuk Ketahanan Keluarga

Febi mengapresiasi iktikad baik dari pihak-pihak terkait yang datang langsung dan berkomitmen untuk mendampingi proses pemulihan psikologis K, termasuk memfasilitasi kebutuhan kesehatan yang diperlukan.

"Anak saya sudah tidak berangkat sekolah selama 2 minggu ini. Alhamdulillah, sudah ada iktikad baik dari pihak sekolah maupun orang tua murid yang berkonflik. Mereka bersedia mendampingi untuk selanjutnya, termasuk terkait fasilitas kesehatan yang dibutuhkan," ujar Febi.

Kendati demikian, Febi berharap uluran tangan dan kepedulian tersebut tidak berhenti sebatas seremonial mediasi, melainkan dikawal tuntas hingga mental K benar-benar pulih dan bisa kembali ceria tanpa rasa takut.

Lebih jauh, ia berharap kasus yang menimpa anaknya menjadi alarm keras bagi dunia pendidikan agar pengawasan terhadap tindak kekerasan di lingkungan sekolah diperketat.

"Harapan saya, pertama, anak saya cepat sembuh. Kedua, ke depannya, baik di sekolah ini maupun di sekolah-sekolah lain, jangan sampai terjadi lagi hal-hal seperti ini," tegas Febi.

Kasus ini menjadi pengingat penting bahwa institusi pendidikan memikul tanggung jawab moral yang besar, tidak hanya mencetak kecerdasan intelektual, tetapi juga wajib menjamin perlindungan fisik dan mental setiap anak dari bayang-bayang kekerasan.

Tidak ada komentar

Tanggapan Anda Tentang Berita Ini ?

Diberdayakan oleh Blogger.