Titik Terang Bullying SDN 2 Langkap: 5 Orang Tua Pelaku Siap Tanggung Biaya Medis Korban Hingga Sembuh, Psikologis Korban Mulai Membaik


KFM PEKALONGAN, KAJEN — Upaya penanganan kasus dugaan perundungan yang menimpa K (siswa kelas VI SDN 2 Langkap, Kedungwuni) terus bergulir. Bertempat di lingkungan sekolah, Rabu (28/10/2026), Dinas Pendidikan Kabupaten Pekalongan bersama UPT Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA), komite sekolah, serta pihak-pihak keluarga terkait menggelar klarifikasi sekaligus mediasi bersama. Langkah ini diambil guna memastikan perlindungan serta pemulihan kondisi fisik maupun mental korban berjalan optimal tanpa ada pihak yang dirugikan.

Sekretaris Dinas Pendidikan Kabupaten Pekalongan, Nasruddin, mengonfirmasi bahwa mediasi menghadirkan orang tua dari lima anak yang diduga terlibat dalam aksi perundungan tersebut. Dalam pertemuan tersebut, dicapai kesepakatan bahwa seluruh pengeluaran medis Kevin menjadi tanggung jawab bersama para orang tua terduga pelaku.

"Kami meminta orang tua anak yang diduga melakukan perundungan bertanggung jawab kepada korban, termasuk menanggung biaya pengobatan dan kebutuhan lainnya. Tanggung jawab tersebut berlangsung sampai dokter menyatakan pengobatan sudah bisa dihentikan atau anak dinyatakan sembuh," jelas Nasruddin.

Nasruddin membenarkan bahwa biaya pengobatan akan ditanggung secara bersama atau iuran oleh kelima orang tua murid tersebut.

Baca juga: Trauma Berat Akibat Bullying Bertahun-tahun, Siswa SD di Pekalongan Tolak Pakai Seragam dan Sempat 3 Hari Tak Tidur

Terkait kabar yang beredar bahwa korban enggan memakai seragam dan menolak pergi ke sekolah, Nasruddin memberikan klarifikasi bahwa dinamika di lapangan tidak sepenuhnya seperti yang diberitakan. Pihaknya juga meluruskan informasi mengenai bentuk tindakan fisik yang dialami korban berdasarkan keterangan para orang tua.

"Berdasarkan klarifikasi yang kami lakukan tadi, kondisinya tidak seperti yang diberitakan. Ketika orang tua mengadukan persoalan ini kepada KPPA melalui hotline, permintaannya adalah mediasi antara orang tua korban dan orang tua anak-anak yang diduga melakukan perundungan," ujarnya.

"Menurut informasi dari orang tua anak-anak yang diduga melakukan perundungan, bentuk kekerasan fisik yang dilakukan hanya berupa teplak atau menepuk. Ya, menurut informasi yang kami terima, ada lima anak yang terlibat. Mungkin ada anak-anak lain yang hanya menyaksikan, tetapi saya tidak mengetahui secara persis karena informasi yang disampaikan berasal dari cerita Mas K," lanjut Nasruddin.

Sebagai langkah pencegahan jangka panjang, Dinas Pendidikan menginstruksikan pihak sekolah untuk melakukan pemantauan harian serta menyiapkan langkah evaluasi sistemik di lingkungan sekolah.

Sementara itu, Pelaksana Tugas (Plt.) Kepala UPT PPA Kabupaten Pekalongan, Nurhayati Wulandari, menyampaikan perkembangan terkini mengenai kondisi kesehatan dan mental Kevin. Laporan pengaduan kasus ini resmi diterima pihaknya pada 20 Oktober 2026 dan langsung ditindaklanjuti secara cepat pada 21 Oktober.

"Kegiatan hari ini merupakan tindak lanjut atas pengaduan mengenai dugaan perundungan terhadap korban atas nama K di SDN Langkap 2. Kami melakukan klarifikasi sekaligus mediasi. Alhamdulillah, kegiatan ini dihadiri oleh Dinas Perlindungan Anak, Dinas Pendidikan, komite sekolah, serta keluarga anak-anak yang diduga terlibat," ungkap Nurhayati Wulandari.

Baca juga: Sekolah Harus Jadi Ruang Tumbuh, Bukan Pabrik Trauma, DPRD Pekalongan Kawal Ketat Kasus Perundungan Anak di Kedungwuni

Nurhayati menceritakan bahwa pada saat awal datang meminta perlindungan, kondisi psikis K sempat berdampak pada kondisi fisiknya. Korban sempat sulit diajak berkomunikasi dan menunjukkan gelisah.

"Untuk kondisi K, sesuai dengan pengaduan yang kami terima, kami sudah memberikan rujukan ke psikiater. Alhamdulillah, seiring berjalannya waktu, kondisinya menunjukkan perubahan yang lebih baik dibandingkan saat pertama kali datang ke tempat kami," jelasnya.

"Sebelumnya, ketika pertama kali datang, kondisinya memang belum bisa diajak berkomunikasi dengan baik. Dia lebih sibuk dengan dirinya sendiri dan terlihat mondar-mandir. Namun, setelah menjalani pemeriksaan dan mendapatkan penanganan, kondisinya mulai membaik. Dia juga sudah bisa menerima asupan makanan dan minuman. Kemungkinan, kondisi psikis yang dialaminya turut berdampak pada kondisi fisiknya," tambahnya.

Mengingat K saat ini berada di tingkat akhir jenjang sekolah dasar (kelas VI), pendampingan dari tim psikolog UPT PPA serta penanganan medis di rumah sakit akan terus dilanjutkan secara berkala agar proses belajarnya tidak terputus.

"Untuk informasi mengenai kehadiran di sekolah, pihak sekolah yang lebih mengetahui secara pasti. Namun, saat ini kondisinya sudah mulai menunjukkan perubahan. Ada perkembangan dibandingkan kondisi sebelumnya, dan dia sempat menunjukkan keinginan untuk kembali masuk sekolah. Bagaimanapun, anak tersebut sudah kelas VI sehingga pendampingan perlu terus dilakukan agar proses pendidikan dan pemulihannya bisa berjalan dengan baik," urai Nurhayati.

Terkait kelanjutan perawatan medis, UPT PPA masih terus menunggu rekomendasi resmi dari tim dokter yang menangani.

"Saat ini, K masih menjalani penanganan di rumah sakit. Pemeriksaan dilakukan sesuai dengan arahan dokter. Untuk tindak lanjut berikutnya, kami masih menunggu hasil pemeriksaan dan rekomendasi dokter, termasuk apakah pengobatan perlu dilanjutkan atau sudah bisa dihentikan. Kami akan terus berkoordinasi agar proses pemulihan K berjalan dengan baik," tegasnya.

Di akhir keterangannya, Nurhayati menekankan agar momentum ini dijadikan ajang evaluasi bersama bagi seluruh pihak sekolah dan orang tua agar gerakan antiperundungan tidak sebatas seremonial.

"Dengan adanya kasus ini, kami menyarankan agar ke depannya semua pihak bisa menjadi lebih baik sehingga kejadian perundungan tidak terulang lagi. Saat ini, isu perundungan memang sedang banyak mendapat perhatian. Namun, kami tidak ingin gerakan antiperundungan hanya menjadi slogan. Kami berharap upaya pencegahan benar-benar diterapkan di sekolah, sehingga anak-anak merasa aman dan nyaman saat belajar," tutupnya.

Tidak ada komentar

Tanggapan Anda Tentang Berita Ini ?

Diberdayakan oleh Blogger.