Menguak Tantangan Perumda Tirta Kajen, Dari Pipa Tua Hingga Tekanan Misterius Malam Hari yang Bikin Pipa Jebol
KFM PEKALONGAN, KAJEN — Menjamin aliran air bersih tetap lancar ke rumah-rumah pelanggan bukanlah perkara mudah. Di balik segarnya air yang mengalir, Perumda Air Minum Tirta Kajen Kabupaten Pekalongan harus terus "berperang" melawan tingkat kehilangan air atau kebocoran fisik yang angkanya masih menjadi tantangan besar.
Direktur Perumda Air Minum Tirta Kajen Kabupaten Pekalongan, Nur Wachid, blak-blakan mengenai kondisi terkini efisiensi distribusi air di wilayahnya. Ia menargetkan adanya penurunan signifikan pada angka kebocoran air agar bisa masuk dalam batas aman kinerja.
"Rata-rata kebocoran di tahun 2025 itu masih di angka 30-an %, sehingga kita bisa turun. Kita berupaya terus mengejar sampai kepada toleransi kinerja, yaitu 25%," ujar Nur Wachid saat ditemui di ruang kerjanya, Senin (6/7/2026).
Untuk mengejar target penurunan hingga 25% tersebut, Nur Wachid memetakan tiga faktor krusial yang selama ini menjadi "kerikil tajam" dalam operasional jaringan pipa Perumda Tirta Kajen:
Baca juga: Antisipasi El Nino 2026, PDAM Pekalongan 'Sapu Bersih' Kebocoran Pipa dan Amankan Mata Air Mudal
1. Usia Jaringan Pipa yang Sudah Uzur
Banyak titik pipa distribusi yang saat ini sudah memasuki usia tua dan rentan pecah. Langkah peremajaan mutlak diperlukan, namun harus disesuaikan dengan kondisi kas perusahaan.
"Faktor pertama tentu umur pipa yang sudah tua, lama, yang pelan-pelan kita harus lakukan revitalisasi. Namun, itu tentu juga harus kita kontrol dari kemampuan keuangan, tidak serta-merta kita semuanya harus ganti," jelas Nur Wachid.
2. Kerentanan Terhadap Bencana Alam (Tanah Longsor)
Kondisi geografis Kabupaten Pekalongan yang berbukit di beberapa wilayah membuat infrastruktur air bersih sangat rawan terdampak pergerakan tanah.
"Di daerah kita memang agak rentan terhadap bencana. Beberapa kali ada bencana seperti waktu itu terjadi tanah longsor di Petung, di kita juga pipa kita kena. Bahkan kemarin di bulan Maret pernah kita beritakan itu kita juga beberapa titik terjadi patah daripada apa itu kejadian tanah longsor," tambahnya.
3. Efek Samping Sistem Gravitasi dan Tekanan Tinggi di Malam Hari
Baca juga: Menembus Hutan Karet, PDAM Pekalongan Antar 8 Kambing Kurban untuk Warga Sekitar Sumber Mata Air
Menariknya, salah satu pemicu kebocoran fisik terbesar justru terjadi saat mayoritas warga sedang terlelap tidur. Karena Perumda Tirta Kajen menggunakan sistem gravitasi, pengendalian tekanan airnya jauh lebih rumit ketimbang menggunakan sistem pompa elektrik yang bisa diatur otomatis.
"Bocor secara fisik, artinya salah satu daripada risiko sistem gravitasi. Karena sistem gravitasi kita pengendaliannya kan agak sulit. Kalau perpompaan kan bisa kita setting ya. Nah, pada saat malam hari, malam hari manakala terjadi pemakaian minim, tekanan pipa-pipa kita sangat besar. Barangkali pas ada titik yang tidak kuat, jebol. Kan gitu," urai Nur Wachid secara detail.
Menyikapi tiga tantangan besar tersebut, Perumda Air Minum Tirta Kajen berkomitmen untuk melakukan manajemen tekanan yang lebih ketat serta melakukan revitalisasi pipa secara berkala pada titik-titik rawan rawan jebol.
Dengan pengelolaan keuangan yang cermat dan mitigasi bencana yang lebih siap, penurunan tingkat kebocoran hingga menyentuh angka 25% optimis dapat dicapai demi pelayanan air bersih Pekalongan yang lebih prima.

Komentar Anda