Tragis, Warga Pekalongan Tewas Digigit Ular Weling Saat Tidur, RSUD Kajen: Kasus Meningkat Selama Kemarau



KFM PEKALONGAN, KAJEN — Musim kemarau tidak hanya membawa hawa panas, tetapi juga ancaman nyata bagi keselamatan warga di Kabupaten Pekalongan. Fenomena alam ini memicu peningkatan kasus gigitan ular secara signifikan akibat rusaknya habitat alami mereka.

Sepanjang tahun 2026 berjalan, Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Kajen mencatat telah menangani 45 kasus warga yang digigit ular. Dari puluhan kasus tersebut, 36 pasien terpaksa harus menjalani rawat inap karena kondisi yang cukup parah, sementara 9 pasien lainnya diperbolehkan rawat jalan. Meski 44 pasien berhasil disembuhkan, keganasan bisa ular berbisa ini telah merenggut satu korban jiwa.

Peristiwa tragis teranyar menimpa seorang warga di Desa Mesoyi, Kecamatan Talun, pada Minggu (5/7/2026) dini hari. Korban diduga kuat digigit oleh ular weling, salah satu jenis ular paling berbisa di Indonesia, saat sedang terlelap tidur. Walau sempat dilarikan ke RSUD Kajen untuk mendapatkan pertolongan medis, nyawa korban sayangnya tidak dapat terselamatkan.

Banyaknya pasien yang harus mendapatkan perawatan intensif di bangsal rumah sakit menjadi bukti kuat bahwa gigitan ular di musim kemarau ini sama sekali tidak boleh dipandang sebelah mata.

Baca juga: Keroyokan 16 Pokja, RSUD Kajen Gelar Simulasi Besar-Besaran Demi Amankan Standar Mutu Tertinggi

Direktur RSUD Kajen, dr. Imam Prasetyo, mengimbau keras agar seluruh lapisan masyarakat melipatgandakan kewaspadaan mereka selama musim kemarau ini berlangsung. Menurutnya, perubahan kondisi lingkungan yang ekstrem memaksa reptil melata tersebut keluar dari sarangnya

"Beberapa jenis ular berbisa dapat menyebabkan pembengkakan berat, gangguan pembekuan darah, kerusakan jaringan hingga gangguan pernapasan apabila terlambat ditangani. Masyarakat diharapkan tetap waspada dan segera datang ke fasilitas kesehatan apabila mengalami gigitan ular agar penanganan dapat dilakukan secepat mungkin," ujar dr. Imam Prasetyo.

Pihak RSUD Kajen menjelaskan bahwa saat musim kemarau tiba, habitat alami ular di hutan atau semak liar menjadi jauh lebih kering. Demi bertahan hidup, satwa-satwa ini akan bermigrasi ke area yang lebih lembap, seperti:

 • Kawasan persawahan dan perkebunan

 • Pekarangan rumah warga

 • Saluran irigasi

Baca juga: Dekati Daerah Perifer, RSUD Kajen Boyong Dokter Spesialis ke Paninggaran untuk Tekan AKI-AKB dan Skrining TBC

Area-area tersebut kerap dituju ular karena menyediakan sumber air dan melimpahnya mangsa (seperti tikus). Selain faktor alam, melonjaknya aktivitas pertanian dan pembersihan lahan di musim kemarau otomatis meningkatkan intensitas pertemuan berbahaya antara manusia dan ular.

Untuk meminimalisir risiko fatalitas, masyarakat yang bekerja di sektor rentan seperti petani dan pekebun diimbau untuk selalu menggunakan sepatu boot atau alas kaki tertutup. Warga juga diminta rutin membersihkan semak-semak serta tumpukan barang bekas di sekitar rumah, dan selalu menggunakan penerangan yang cukup (senter) saat beraktivitas di malam hari.

Jika terjadi kasus gigitan ular, RSUD Kajen menegaskan agar warga tidak melakukan mitos-mitos penanganan keliru yang justru bisa mempercepat penyebaran racun.

 • DILARANG: Menyayat luka gigitan.

 • DILARANG: Mengisap racun dengan mulut.

 • DILARANG: Memasang ikatan torniket terlalu kencang

Langkah terbaik yang harus dilakukan adalah tetap tenang, membatasi gerakan (imobilisasi) pada bagian tubuh yang tergigit agar racun tidak menyebar cepat, lalu segera menuju ke fasilitas kesehatan atau Instalasi Gawat Darurat (IGD) terdekat demi mendapatkan penanganan medis dan pemberian Serum Antibisa Ular (SABU).

Tidak ada komentar

Tanggapan Anda Tentang Berita Ini ?

Diberdayakan oleh Blogger.