Tembus Pasar Eropa, Petani Kopi Pekalongan Kini Dibekali Ilmu Kebal Perubahan Iklim
KFM PEKALONGAN, KAJEN – Harapan besar membumbung bagi masa depan komoditas kopi di Kabupaten Pekalongan. Di tengah ancaman anomali cuaca yang kerap menghantui produktivitas lahan, Pemerintah Kabupaten Pekalongan bersama Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) Tegal resmi meluncurkan "Sekolah Lapang Iklim (SLI) Kopi", Rabu (29/4/2026).
Langkah strategis yang digelar di La Ranch Glamping, Karanganyar ini bertujuan untuk memperkuat resiliensi petani kopi lokal agar mampu memenuhi standar ketat pasar ekspor, khususnya permintaan besar dari benua Eropa.
Plt. Bupati Pekalongan, H. Sukirman, S.S., M.S., menegaskan bahwa kolaborasi lintas sektoral ini adalah jawaban atas tantangan nyata di lapangan. Menurutnya, perubahan iklim ekstrem saat ini berpotensi memicu gagal panen hingga angka 50%.
"Kami tidak ingin pembangunan hanya berdasarkan imajinasi, tapi harus berlandaskan data. Melalui kolaborasi dengan Bank Indonesia dan Mercy Corps, kita dorong sekolah lapangan ini agar petani tidak hanya menjual biji mentah, tapi mampu mengolahnya dengan standar internasional," ujar Sukirman di hadapan para pegiat kopi dan akademisi.
Baca juga: Jelang Idulfitri 2026, BI Tegal Ingatkan Ancaman Lonjakan Harga Pangan di Pekalongan
Ia juga menyoroti pentingnya keterlibatan perguruan tinggi seperti UIN Gus Dur, ITSNU, dan UMPP untuk memberikan data objektif bagi kebijakan pemerintah yang tepat sasaran.
Kepala Perwakilan Bank Indonesia Tegal, Bimala, mengungkapkan bahwa potensi kopi Robusta asal Pekalongan sebenarnya telah diakui dunia. Tercatat pada Maret 2026, pihaknya baru saja memfasilitasi pelepasan ekspor sebanyak 19,8 ton ke Yunani. Namun, dari target 30 kontainer yang diminta oleh buyer, realisasinya baru mencapai 4 kontainer.
"Tantangannya adalah bagaimana memenuhi standar kualitas dan persyaratan teknis yang ditetapkan pembeli. Mayoritas kopi di Talun dan Kutorojo adalah biji besar yang sangat diminati pasar Eropa, namun petani kita masih kesulitan dalam proses pascapanen yang optimal," jelas Bimala.
Bimala menambahkan, Sekolah Lapang Iklim ini dirancang secara end-to-end, mulai dari literasi iklim dasar bersama BMKG hingga teknik peningkatan mutu greenbean yang sesuai standar pasar global.
Program ini tidak hanya sekadar teori. Bimala merinci bahwa pelatihan akan dilakukan secara serial mulai Juni hingga Agustus 2026. Materi yang diberikan mencakup:
Mitigasi di Kebun: Penggunaan bibit unggul dan teknik agroforestri.
Kualitas Hilir: Penggunaan "Solar Dryer Dome" untuk menjaga kadar air.
Akses Keuangan: Literasi asuransi indeks cuaca dan pembiayaan KUR.
"Kehadiran Sekolah Lapang Iklim ini diharapkan menjadi pusat edukasi berkelanjutan. Tujuannya jelas: meningkatkan kesejahteraan petani, mendorong UMKM naik kelas, dan memperkuat posisi kopi Pekalongan di pasar global," tambah Bimala.
Senada dengan BI, Plt. Kepala Dinas Koperasi, UKM dan Naker, Siti Masruroh, melaporkan bahwa inisiasi ini juga didorong oleh permintaan domestik yang masif, seperti kebutuhan kopi olahan sebanyak 250.000 sachet per bulan untuk segmen pasar pesantren.
Dengan adanya Sekolah Lapang Iklim, Kabupaten Pekalongan optimis dapat mengubah pola budidaya tradisional menuju pertanian modern yang adaptif. Harapannya, kopi tidak lagi sekadar menjadi tanaman sampingan, melainkan mesin pertumbuhan ekonomi daerah yang tangguh menghadapi tantangan zaman.

Komentar Anda